ISKCON in Indonesia

ISKCON in Indonesia

The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) | Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI)

Indonesia is home to a large variety of colourful cultures and ancient traditions. Hare Krishna devotees of Indonesia embraces them and utilise them for glorifying the activities of Lord Krishna. It is not odd to see devotees dancing to Krishna Kirtan while wearing a batik skirt, or a Balinese head piece. Architectural designs, motifs, paintings, carvings and dramas are also tuned to the highly refined Balinese style, which experts say are from the ancient Hindu-Javanese Majapahit kingdom. 


Music and dance plays a central role in the Hare Krishna Movement. Younger devotees adopt various gestures and moves from the traditional Bharatanatyam dance of India. Traditional Bengali instruments like kartals (hand cymbals), mrdangas (clay drums) and harmoniums are primarily used for kirtan. But this doesn't stop there. Many talented musicians play violins, guitars and drums, and also use them for kirtan. Talking of which, ISKCON's own Krsna Gita Svara, a traditional Balinese gamelan troupe of devotees, redefines kirtan. 


Preserving indigenous culture is of extreme importance to the devotees. Traditional dance and music is taught to young children, and they are encouraged to perform them during festivals for the pleasure of Lord Krishna and the guests.

Indonesia adalah rumah bagi banyak ragam budaya dan tradisi purba yang penuh warna. Para penyembah Hare Krishna menjalani budaya dan tradisi tersebut dan menggunakannya untuk mengagungkan kegiatan-kegiatan Sri Krishna. Para penyembah menari dalam Krishna Kirtan sambil mengenakan kain batik atau “udeng” Bali bukanlah pemandangan yang asing dilihat. Desain arsitektur, motif, lukisan, ukiran dan drama juga diselaraskan dengan gaya/style tingkat tinggi dan halus yang dimiliki oleh Bali, yang oleh para ahli dikatakan berasal dari kerajaan Hindu-Jawa Majapahit. 


Musik dan tarian memiliki kedudukan penting dalam Perkumpulan Hare Krishna. Pemuda-pemudi penyembah Krsna mengadopsi berbagai gestur dan gerakan dari tarian tradisional Bharatanatyam India. Alat-alat musik tradisional Benggali seperti kartal (simbal kecil), mrdanga (gendang) dan harmonium menjadi alat musik utama untuk melakukan kirtan. Tetapi tidak terbatas hanya pada alat-alat musik tersebut. Banyak musisi berbakat yang memainkan biola, gitar dan drum, dan menggunakannya juga untuk melakukan kirtan. Berbicara tentang hal seperti itu, Krsna Gita Svara, sebuah kelompok gamelan tradisional Bali milik ISKCON, telah menghadirkan kirtan dengan wajah baru. 


Melestarikan budaya asli pribumi bermakna sangat penting bagi para penyembah. Tarian dan musik tradisional diajarkan kepada anak usia belia, dan mereka didorong untuk mementaskannya selama diselenggarakannya festival-festival untuk kepuasan Sri Krishna dan tamu-tamu.