ISKCON in Indonesia

ISKCON in Indonesia

The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) | Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI)

Deity Worship

Deities play an important part in most temples of Krishna. But what is the significance of Deities and Deity worship? One thing to understand is that all the images or Deities in the Vedic pantheon, as found in the temples, are made according to explicit details and instructions found in the Vedic texts. Then they are installed in the temple in an elaborate ceremony wherein the Divine personalities are called to appear in the form of the Deity. Some of the Deities are demigods, while others, such as Krishna, Vishnu, or Ramachandra, are forms displaying various pastimes of the Supreme Being.


Some people, however, do not believe that God has a form. But many verses in the Puranas and particularly the Brahma-samhita establish that the Supreme Being does have specific forms according to His pastimes. These texts also describe His variegated features, which include His spiritual shape, characteristics, beauty, strength, intelligence, activities, etc. Therefore, it is considered that the authorized Deities of the Supreme that are shaped according to these descriptions provide a view of the personal form of God. God is described in the Vedic literature, which explains that God is sat-chit-ananda vigraha, or the form of complete spiritual essence, full of eternity, knowledge, and bliss, and is not material in any way. His body, soul, form, qualities, names, pastimes, etc., are all nondifferent and are of the same spiritual quality. This form of God is not an idol designed from someone’s imagination, but is the true form, even if He should descend into this material creation.


Some people may question that if the Deity is made from material elements, such as stone, marble, metal, wood, or paint, how can it be the spiritual form of God? The answer is given that since God is the source of all material and spiritual energies, material elements are also a form of God. Therefore, God can manifest as the Deity in the temple, though made of stone or other elements, since He can transform what is spiritual into material energy, and material energy back into spiritual energy. Thus, the Deity can easily be accepted as the Supreme since He can appear in any element as He chooses. In this way, even though we may be unqualified to see God, who is beyond the perceptibility of our material senses, the living beings in this material creation are allowed to see and approach the Supreme through His archa-vigraha form as the worshipable Deity in the temple. This is considered His causeless mercy on the materially conditioned living beings.


In this manner, the Supreme Being gives Himself to His devotees so they can become absorbed in serving, remembering and meditating on Him. Thus, the Supreme comes to dwell in the temple, and the temple becomes the spiritual abode on earth. In time, the body, mind and senses of the devotee become spiritualized by serving the Deity, and the Supreme becomes fully manifest to him or her. Worshiping the Deity of the Supreme and using one’s senses in the process of bhakti-yoga, devotional service to the Supreme, provides a means for one’s true essential spiritual nature to unfold.

Pemujaan Arca

Keberadaan Arca memiliki peran penting di sebagian besar temple Krishna. Apa makna penting Arca dan pemujaan Arca? Satu hal yang harus dimengerti adalah bahwa semua penggambaran atau Arca dalam tradisi Veda, sebagaimana yang dapat dilihat di kuil-kuil, dibuat menurut ketentuan yang jelas dan terperinci dari kitab-kitab Veda. Kemudian Arca tersebut distanakan di kuil dalam sebuah upacara rumit di mana Pribadi-Pribadi Rohani dimohonkan kehadirannya dalam wujud Arca. Sejumlah Arca adalah sosok dewa-dewa, sementara yang lain, seperti Arca Krishna, Vishnu, atau Ramachandra, adalah wujud-wujud yang memperlihatkan berbagai kegiatan lila dari Pribadi Yang Mahatinggi.


Bagaimanapun, sejumlah orang tidak meyakini bahwa Tuhan memiliki wujud. Tetapi, ada banyak ayat di dalam kitab-kitab Purana dan khususnya kitab Brahma-samhita yang menegakkan bahwa Pribadi Yang Mahatinggi memang memiliki wujud-wujud spesifik sesuai dengan kegiatan lila-Nya. Ayat-ayat tersebut menguraikan pula berbagai aspek keanekaragaman-Nya, yang meliputi bentuk spiritual-Nya, karakteristik, kerupawanan, kekuatan, kecerdasan, kegiatan, dsb. Karena itu, Arca-Arca Tuhan yang absah, yang bentuknya dibuat berdasarkan uraian-uraian tersebut, dipandang dapat menyediakan sebuah cara pandang tentang wujud pribadi Tuhan. Kitab-kitab Veda menguraikan tentang Tuhan, di mana dijelaskan bahwa Tuhan adalah sat-chit-ananda vigraha, atau wujud hakikat spiritual yang lengkap-sempurna, penuh keabadian, pengetahuan, dan kebahagiaan, dan sama sekali tidak bersifat material. Badan-Nya, jiwa, wujud, sifat, nama, kegiatan, dsb., semuanya tidak berbeda satu sama lain dan memiliki sifat spiritual yang sama. Wujud Tuhan ini bukanlah berhala yang dibuat berdasarkan imajinasi seseorang, melainkan merupakan wujud sejati, bahkan jika Tuhan harus turun ke dalam ciptaan material ini.


Mungkin timbul pertanyaan bahwa jika Arca terbuat dari bahan-bahan material seperti batu, marmer, logam, kayu, atau cat, bagaimana mungkin wujud itu adalah wujud spiritual Tuhan? Jawabannya adalah bahwa Tuhan adalah sumber segala energi material dan spiritual sehingga unsur-unsur material adalah juga salah satu wujud Tuhan. Karena itu, Tuhan dapat mewujud sebagai Arca di kuil, walau terbuat dari batu atau bahan-bahan lainnya, sebab Tuhan dapat mengubah sesuatu yang spiritual menjadi energi material, dan energi material kembali menjadi energi spiritual. Demikianlah, mudah untuk menerima Arca sebagai Yang Mahatinggi sebab Yang Mahatinggi bisa muncul dalam unsur apa pun sesuai dengan yang dipilih oleh-Nya. Dengan cara seperti ini, walaupun kita tidak memenuhi syarat untuk melihat Tuhan, yang keberadaan-Nya melampaui penangkapan indria-indria material kita, para makhluk hidup di dalam ciptaan material ini diizinkan untuk melihat dan mendekatkan diri kepada Yang Mahatinggi melalui wujud archa-vigraha-Nya, sebagai Arca yang dipuja di kuil. Ini dipandang sebagai karunia Tuhan yang tanpa sebab kepada makhluk-makhluk hidup yang terbelenggu kehidupan material.


Melalui cara inilah Pribadi Yang Mahatinggi menyediakan Diri-Nya kepada para penyembah-Nya agar mereka bisa menjadi khusyuk dalam melayani, mengingat dan memusatkan pikiran kepada-Nya. Demikianlah Yang Mahatinggi datang dan hadir di kuil, dan kuil menjadi kediaman spiritual di bumi. Pada gilirannya, badan, pikiran dan indria-indria sang penyembah dispiritualkan dengan cara melayani Arca, dan Yang Mahatinggi menjadi terwujud seutuhnya bagi sang penyembah. Dengan memuja Arca Tuhan dan menyibukkan indria-indria dalam proses bhakti-yoga atau pelayanan suci kepada Yang Mahatinggi, memungkinkan terbangkitkannya sifat spiritual sejati pada diri seseorang.