ISKCON in Indonesia

ISKCON in Indonesia

The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) | Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI)

How is ISKCON like in Indonesia?

Srila Prabhupada, ISKCON's founder-acharya, visited Jakarta, the capital of Indonesia, in the year of 1973. In the 1980s, Indonesia only had 2 centres, one in Jakarta (Rawamangun) and one in Bali (Sagamona). The devotees, however, were misunderstood by the public and thus could not perform their devotional practices openly. The situation with the government was also not very conducive and therefore the devotees were checked from making any public appearances.

In 1998, a political reformation took place, and in the year of 2000 the devotees took this opportunity to publicly chant the Hare Krishna Mahamantra at public places, blending in with the political demonstrations that took place at that time. On the 1st of January 2002, SAKKHI (Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia) was formed to act as a middle man between the growing number of devotees and the Hindu Dharma Council of Indonesia (Parisada Hindu Dharma Indonesia).

In 2015, SAKKHI evolved to form a legal body and registered itself with the Ministry of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia as the "International Society for Krishna Consciousness (ISKCON)" Association.

This ISKCON Association is the National Council for ISKCON in Indonesia. The Council seeks to manage and serve the devotees and local establishments, in particular by providing information and resources from the global ISKCON world.

In carrying out their activities, devotees form establishments (temples/centres/nama-hattas) which are members of the Association, and they meet once a year with the Board of Supervisors (9 devotees from all over Indonesia who look over the activities of the organisation), the Board of Executives (5 devotees and 7 departments that actively serve the devotees) and the representatives of the ISKCON GBC.

The GBC, or the Governing Body Commission, is ISKCON's highest managerial authority, as established by Srila Prabhupada in 1970. Its primary responsibility is to preserve, disseminate, and carry out the instructions of Srila Prabhupada. His Holiness Kavicandra Swami & His Holiness Ramai Swami are co-GBCs for Indonesia. 

Seperti Apa ISKCON di Indonesia?

Srila Prabhupada, founder/pendiri-acharya ISKCON, mengunjungi Jakarta, ibukota Indonesia, pada 1973. Selama tahun 1980an, hanya ada 2 pusat pengajaran di Indonesia, satu di Jakarta (Rawamangun) dan satu di Bali (Sagamona). Terjadi kekeliruan pemahaman umum terhadap apa yang dijalani oleh para anggota ISKCON sehingga mereka tidak dapat melaksanakan praktik bhakti mereka secara terbuka. Keadaan pemerintahan juga tidak terlalu kondusif sehingga para anggota tidak melakukan kegiatan yang tampil di depan publik.


Pada tahun 1998, terjadi reformasi politik, dan pada tahun 2000 para anggota mengambil kesempatan untuk menyanyikan Mahamantra Hare Krishna di tengah khalayak umum di tempat-tempat umum, berbaur dengan demonstrasi-demonstrasi politik yang terjadi pada masa itu. Pada 1 Januari 2002, didirikan SAKKHI (Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia) untuk bertindak sebagai perantara antara pihak anggota perkumpulan yang jumlahnya terus bertambah dengan Dewan Hindu Dharma di Indonesia (Parisada Hindu Dharma Indonesia).


Pada 2015, SAKKHI berubah menjadi sebuah badan hukum dan terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai "Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON)".


Perkumpulan ISKCON ini adalah Dewan Nasional untuk ISKCON di Indonesia. Dewan tersebut berperan untuk mengatur dan melayani para anggota dan entitas lokal, khususnya dengan menyediakan informasi dan sumber daya dari dunia ISKCON global.


Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya, penyembah ISKCON membentuk Unit Kegiatan (temple/centre/nama-hatta) yang menjadi bagian dari Perkumpulan, dan mereka mengadakan pertemuan sekali setahun bersama Dewan Pengawas (9 penyembah dari seluruh Indonesia yang mengawasi aktivitas organisasi), Dewan Pengurus (5 penyembah dan 7 departemen yang aktif melayani para penyembah) dan perwakilan dari GBC ISKCON.


GBC, atau Governing Body Commission, adalah otoritas manajerial tertinggi ISKCON, sebagaimana telah didirikan oleh Srila Prabhupada pada 1970. Tanggungjawab utama GBC adalah menjaga, menyebarluaskan, dan melaksanakan perintah-perintah Srila Prabhupada. His Holiness Kavicandra Swami & His Holiness Ramai Swami adalah GBC bersama untuk Indonesia.