ISKCON in Indonesia

ISKCON in Indonesia

The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) | Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI)

Karma

“Karma” means “activity”, and the law of karma is the law that regulates the reactions to our activities. The law of karma is the natural law of action and reaction. In physics this is expressed by Newton’s law, “For every action there is an equal and opposite reaction”. From a practical point of view this means that good actions give good results and bad or destructive actions give bad or less fortunate results.


It should be noted here that all souls are essentially good. This means that just because someone gets a bad reaction it does not mean that they are a bad person. Another important point is that karma is temporary. This means that although we may be experiencing a particular set of circumstances right now those circumstances will change in the future. This could happen in this life or even future lives. Not only is karma temporary it is also possible to change one’s karma, or even get rid of it altogether by acting spiritually in the service of God.


Good reactions include things like wealth, beauty, intelligence and happiness. Bad reactions include things like poverty and disease. In order to fully understand how karma works the concept of reincarnation must also be looked into. See the page on Reincarnation for more information.

Karma (good or bad) creates a continuous cycle by which one is entangled in repeated actions and subsequent reactions. As long as one is in this cycle one will naturally experience both happiness and distress. The philosophy of the devotees of Krishna teaches how to break this cycle and achieve a state of eternal happiness known as liberation in a pure relationship with Krishna (God).


From the spiritual point of view, that of eternity, it doesn’t really matter if one has “good” or “bad” karma. This is because past material karma does not impede one from making spiritual advancement.

“Karma” berarti “aktivitas”, dan hukum karma adalah hukum yang mengatur reaksi-reaksi bagi aktivitas kita. Hukum karma adalah hukum alamiah aksi dan reaksi. Dalam ilmu fisika hal ini tergambarkan oleh Hukum Newton, “Setiap aksi menghasilkan reaksi yang setara, dengan arah yang berlawanan”. Dari sudut pandang praktis, ini berarti bahwa perbuatan baik akan memberikan hasil yang baik dan perbuatan yang buruk atau merusak akan memberikan hasil yang buruk.


Perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa pada dasarnya semua jiwa adalah baik. Artinya bahwa hanya karena seseorang mendapatkan reaksi yang buruk bukan berarti bahwa dia adalah orang jahat. Poin penting lainnya adalah bahwa karma bersifat sementara. Ini berarti bahwa walau mungkin saat ini kita sedang mengalami suatu keadaan tertentu, keadaan tersebut akan berubah di masa mendatang. Perubahan tersebut bisa terjadi dalam hidup saat ini ataupun dalam kehidupan berikutnya. Karma bukan hanya bersifat sementara tetapi dimungkinkan juga untuk mengubah karma seseorang, atau bahkan menyingkirkannya sepenuhnya dengan cara melakukan aktivitas spiritual dalam pelayanan kepada Tuhan.


Reaksi yang baik meliputi hal-hal seperti kekayaan, kerupawanan, kecerdasan dan kebahagiaan. Reaksi yang buruk meliputi hal-hal seperti kemiskinan dan penyakit. Untuk dapat memahami secara utuh bagaimana karma bekerja, konsep reinkarnasi harus dicermati pula. Untuk mendapatkan keterangan lebih jauh, lihat halaman tentang Reinkarnasi.

Karma (baik ataupun buruk) menciptakan sebuah siklus yang terus berlanjut yang menyebabkan seseorang terbelenggu dalam aksi dan reaksi yang dialami berulang kali. Selama seseorang berada di dalam siklus tersebut, sewajarnya ia akan merasakan kebahagiaan dan penderitaan. Filsafat yang dipegang oleh para penyembah Krishna mengajarkan cara untuk memutus siklus tersebut dan mencapai keadaan kebahagiaan kekal yang dikenal sebagai pembebasan dalam jalinan hubungan yang suci-murni dengan Krishna (Tuhan).


Dari sudut pandang spiritual dengan titik acuan keabadian, karma “baik” ataupun karma “buruk” yang seseorang miliki tidaklah menjadi pertimbangan, sebab karma masa lalu tidak menjadi penghalang untuk tercapainya kemajuan spiritual.