ISKCON in Indonesia

ISKCON in Indonesia

The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) | Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI)

Our Philosophy 

1. By sincerely cultivating true spiritual science, we can be free from anxiety and come to a state of pure, unending, blissful consciousness in this lifetime.


2. We are not our bodies but eternal, spirit souls, parts and parcels of God (Krishna). As such, we are all brothers, and Krishna is ultimately our common father. We accept the process of transmigration of the soul (reincarnation).


3. Krishna is eternal, all-knowing, omnipresent, all-powerful, and all-attractive. He is the seed-giving father of all living beings, and He is the sustaining energy of the entire cosmic creation. He is the same God as The Father Allah, Buddha and Jehovah.


4. The Absolute Truth is contained in the Vedas, the oldest scriptures in the world. The essence of the Vedas is found in the Bhagavad-gita, a literal record of Krishna's words.


5. One can learn the Vedic knowledge from a genuine spiritual master -- one who has no selfish motives and whose mind is firmly fixed on Krishna.


6. Before one eats, one offers to the Lord (Krishna) the food that sustains all humans; then Krishna becomes the offering and purifies the offered.


7. One performs all actions as offerings to Krishna and does nothing for one's own sense gratification.


8. The recommended means for achieving the mature stage of love of God in this age of Kali, or quarrel, is to chant the holy names of the Lord. The easiest method for most people is to chant the Hare Krishna mantra: Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare.

1. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan spiritual dengan tulus hati, kita dapat terbebas dari rasa cemas dan mencapai keadaan kesadaran yang murni, tanpa akhir dan penuh kebahagiaan dalam kehidupan saat ini juga. 


2. Kita bukanlah badan ini melainkan roh/jiwa yang bersifat kekal, bagian tak terpisahkan dari Tuhan (Krishna). Oleh karena itu, kita semua adalah bersaudara, dan pada puncaknya Krishna adalah ayah kita semua. Kita mengakui tentang proses perpindahan yang dialami oleh sang roh (reinkarnasi). 


3. Krishna kekal, mahamengetahui, maha-ada, mahakuat, dan mahamemikat hati. Krishna adalah ayah pemberi benih semua makhluk hidup, dan Dia adalah energi yang memelihara seluruh ciptaan alam semesta. Krishna adalah Tuhan yang sama, yakni Allah Bapa, Buddha dan Yehowah. 


4. Kebenaran Mutlak terkandung di dalam Weda, kitab-kitab suci tertua di dunia. Hakikat dan intisari Weda dapat ditemukan di dalam Bhagavad-gita, yang berisi sabda-sabda Krishna. 


5. Seseorang dapat belajar pengetahuan Weda dari seorang guru spiritual yang sejati, yakni orang yang tanpa motif kepentingan pribadi dan pikirannya terpusat dengan mantap kepada Krishna. 


6. Sebelum makan, seseorang mempersembahkan makanannya kepada Tuhan (Krishna); maka Krishna menjadi persembahan tersebut dan menyucikan apa yang dipersembahkan. 


7. Seseorang melakukan segala perbuatan sebagai sebentuk persembahan kepada Krishna dan tidak ada yang dilakukannya demi kepuasan inderanya sendiri. 


8. Cara yang dianjurkan untuk mencapai tingkat matang cinta kasih Tuhan pada zaman Kali saat ini, atau zaman perselisihan, adalah dengan mengucapkan nama-nama suci Tuhan. Metode yang termudah bagi kebanyakan orang adalah dengan mengucapkan mantra Hare Krishna: Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare.

Acintya-bhedabheda Tattva

Acintya-bhedabheda-tattva refers to the inconceivable oneness and difference of the Supreme Person and His energies. This is one of the key points of theistic philosophy taught by Chaitanya Mahaprabhu. As parts of God's energy, we're also equal in quality with God, but there's a vast difference in quantity. We're each infinitesimal sparks of spiritual energy, and the Supreme Person, Krishna, is the infinite, supreme source of all energies.


Some parts of the Vedas say that all beings are one with God, and others say that God is different from all beings.Vedanta philosophers have long argued back and forth about this, but Chaitanya Mahaprabhu taught that both statements are simultaneously true.


Just as the sun is the source of heat and light, God is the ultimate source of all energy. The sun is inseparable from its rays, and God is inseparable from His energies. God and His energies are therefore nondifferent. At the same time, God and His energies are distinct. The sun and its rays are one, but they're also different: we can feel the sun's light and heat while the sun itself is millions of miles away.


Similarly, God is omnipresent by His energy but also maintains His distinct personal identity – His own name, form, qualities, home, activities, and associates. Since everything is a display of God's energy, God is simultaneously different (bheda) and nondifferent (abheda) from everything. This truth (tattva) is inconceivable (acintya) to the mundane mind. All that exists within the spiritual world and the material world is also God's energy, and therefore one with and different from God simultaneously. 


In such a way, everything is spiritual, or brahman, as it is both God's energy (saktiparinamavada) and can be used in God's service.


Acintya-bhedabheda-tattva merujuk kepada keadaan tak terjangkau pemikiran di mana Tuhan dan energi-energi-Nya adalah satu dan sama namun juga berbeda pada saat yang bersamaan. Ini adalah salah satu poin utama filosofi teistik yang diajarkan oleh Chaitanya Mahaprabhu. Sebagai bagian dari energi Tuhan, kita juga memiliki kualitas yang sama dengan Tuhan, tapi di saat yang sama ada perbedaan yang sangat besar dalam hal kuantitas. Kita adalah percikan yang sangat kecil dari energi rohani, dan Pribadi Yang Maha Tinggi, Krishna, adalah sumber tertinggi segala energi yang tanpa batas.


Beberapa bagian Veda menyebutkan bahwa semua mahluk hidup adalah satu dan sama dengan Tuhan, dan bagian-bagian lainnya menyatakan bahwa Tuhan berbeda dengan semua mahluk hidup. Para filsuf Vedanta telah berdebat panjang mengenai hal ini, tapi Chaitanya Mahaprabhu mengajarkan bahwa kedua pernyataan tersebut adalah benar pada saat yang bersamaan.


Seperti halnya matahari adalah sumber panas dan cahaya, Tuhan adalah sumber utama segala energi. Matahari tidak dapat dipisahkan dari cahayanya, dan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari energi-Nya. Oleh karena itu, Tuhan tidak berbeda dengan energi-Nya. Pada saat yang sama, Tuhan berbeda dengan energi-Nya. Matahari dan sinarnya adalah satu, tapi mereka juga berbeda: kita dapat merasakan sinar dan panas matahari sementara matahari sendiri berada berjuta-juta mil jauhnya.


Begitu juga, Tuhan hadir di mana-mana melalui energi-Nya tapi Tuhan tetap memiliki identitas terpisah, yaitu Nama-Nya sendiri, bentuk, sifat-sifat, tempat tinggal, kegiatan, dan rekan-rekan-Nya. Oleh karena segalanya adalah perwujudan energi Tuhan, maka Tuhan berbeda (bheda) dan tidak berbeda (abheda) dengan segala hal pada saat yang bersamaan. Kebenaran (tattva) ini tidak dapat dijangkau (acintya) oleh pikiran. Segala hal yang ada di dunia rohani maupun dunia material adalah juga energi Tuhan, sehingga segalanya satu dan sama dengan Tuhan namun juga berbeda dengan Tuhan di saat yang bersamaan.


Oleh karena itu, segala hal bersifat spiritual, atau brahman, karena merupakan energi Tuhan (saktiparinamavada) dan dapat digunakan dalam pelayanan kepada Tuhan.